Kelas Belajar Bareng bersasama KKN 58 UTM

Setiap hari, setelah selesai sholat isya berjamaah di masjid Aermata, kami anggota KKN 58 UTM selalu membuka kelas belajar bersama. Tak banyak yang ikut sekitar 10an anak. Semangat mereka untuk bisa belajar sangatlah besar. Sebelum kami pulang dari masjidpun, mereka sudah terlihat ramai bermain di teras basecamp kkn 58 Buduran. Mereka senang bisa kami ajari berhitung menggunakan jari tangan pada matapelajaran Matematika. Anak-anak datang dari kelas yang berbeda-beda , ada yang dari kelas 1 sampai 6. Mata pelajaran yang mereka minta bantuan ke kami untuk mengajari yakni tentang tugas mereka  ada yang belajar matematika, ipa, bahasa madura, pendidikan agama islam.


Wisata

WISATA MAKAM AER MATA EBHU

        Asal - Usul Pesarean Aermata Ebhu

       
arosbaya
Pesarean Rato Ebhu
      Menurut para sejarah menyebutkan bahwa Syarifah Ambami adalah salah satu keturunan dari Sunan Giri Gresik ke 5. Syarifah Ambami disukai dan dipersunting oleh Pangeran Tjakraningrat I yang juga merupakan anak angkat Sultan Agung Mataram. Dikisahkan bahwa sejak terjadinya Perang Mataram tahun 1624, Madura disukai oleh Sultan Agung. Lalu ia menginginkan agar Pangeran Tjakraningrat I memerintah Madura secara keseluruhan. Titah raja pun dilaksanakan dengan penuh tanggung jawab.
         Meskipun Madura menjadi daerah kekuasaanya, namun Pangeran Tjakraningrat justru jarang sekali tinggal di Sampang. Apalagi Raja Mataram, Sultan Agung, masih membutuhkan tenaganya untuk memimpin kerajaannya di tanah Jawa sehingga Pangeran Tjakraningrat I sering tinggal di kerajaan tanah Jawa. Wajar apabila Ratu Syarifah lebih banyak tinggal di Kraton Sampang sendirian tanpa didampingi suami tercintanya. Namun Ratu Syarifah adalah seorang figur wanita yang taat dan patuh pada semua perintah suaminya. Maka untuk mengisi waktu  kosongnya, Ratu Syarifah yang lebih populer dengan sebutan Ratu Ibu tersebut lebih banyak menghabiskan waktunya untuk betapa di sebuah bukit di Arosbaya.

desa buduran
Sumber Aermata Ebhu
Dalam kisahnya diceritakan bahwa selama dalam pertapaannya, Ratu Ibu Syarifah senantiasa memohon kepada Allah SWT. agar keturunannya yang laki-laki kelak bisa menjadi pucuk pimpinan pemerintahan di Madura. ia berharap agar pimpinan Pemerintahan tersebut dijabat hingga tujuh turunan. Yang anehnya dalam sejarah tersebut atau dikisahkan bahwa suatu hari didalam pertapaannya, Ratu Ibu Syarifah berjumpa dengan Nabi Khidiir AS. Dalam pertemuannya yang hanya terjadi sesaat sepertinya semua permohonan Ratu Ibu akan dikabulkan oleh Nabi Khidiir AS.

           Ratu Ibu Syarifah sudah merasa pertapaannya sudah cukup maka dari itu Ratu Ibu Syarifah kembali ke Kraton Sampang. Tidak selang beberapa lama, suami dari Ratu Ibu Syarifah yaitu Pangeran Tjakraningrat I datang dari bertugas di kerajaan Mataram. Dan sebagai istri yang yang setia dan patuh pada suaminya, tentu Ratu Syarifah menyambut kedatangan suaminya dengan senang hati. Dan senang hati Ibu Ratu Syarifah membagi pengalaman yang beliau rasakan selama beliau bertapa, semua kegiatan yang dilakukan dan tidak dilakukan oleh ibu Ratu Syarifah salah satu yang diceritakan oleh beliau yaitu petunjuk bahwa permohonannya yang beliau minta pada Nabi Khidiir AS agar turunannya kelak memimpin Pemerintahan di Madura dikabulkan diceritakan dengan rinci dan semuanya tidak ada yang di tutup-tutupin dari suaminya.

wisata aermata
gambar:7 keturunan dari rato ebhu 
           Setelah ibu Ratu Syarifah menceritakan semuanya kepada suaminya, tidak di sangka-sangka respon yang diberikan oleh Pangeran Tjakraningrat I tidak seperti yang diharapkan oleh ibu Ratu Syarifah, karena suaminya marah terhadap ibu Ratu Syarifah karena menurut Pangeran Tjakraningrat mengapa hanya tujuh turunan yang diminta untuk memimpin pemerintahan di madura, mengapa tidak semua turunan kita yang harus memerintah di madura selamanya. Begitu pendapat yang di lontarkan Pangeran Tjakraningrat terhadap isterinya yaitu ibu Ratu Syafirah dengan nada tinggi dan amarah. Ibu Ratu Syarifah pun hanya membalas dengan menundukkan kepala dengan wajah menyesal dan sedih karena sudah membuat suami yang di  banggakan dan di sayanginya kecewa dengan dirinya. Setelah suaminya berangkat untuk bertugas kembali ke Mataram, Ratu Syarifah pun juga kembali untuk bertapa ke desa Buduran. Yang di mohonkan oleh Ibu Ratu Syarifah adalah agar keinginan dari suaminya untuk menjadikan seluruh keturunannya untuk bisa menjadi pemimpin Pemerintahan di Madura. Setiap hari setiap siang dan malam Ibu Ratu selalu memohon kepada Allah SWT agar harapan dan keinginan dari suaminya bisa dikabulkan, dan beliau memohon sambil terus menangis dengan kata lain siang malam Ibu Ratu selalu menangis.

Ibu Ratu melakukan pertapaannya setiap hari sambil menangis sampai beliau meninggal dunia sehingga mengakibatkan air matannya mengalir ke sungai di ujung Desa yang terdapat sumber air disana yang didalamnya terdapat ikan Buduran. Maka dari itu untuk mengenang sejarah tersebut orang-orang menyebut desa tersebut dengan sebutan Desa Buduran. Begitu penjelasan dari para sejarawan tentang terbentuknya Desa buduran.

          Tidak beda jauh dari penjelasan para sejarawan dan untuk cerita atau penjelasan dari warga setempat sekaligus para sesepuh yang di segani di Desa Buduran tersebut yaitu nama Buduran sebenarnya berasal dari nama ikan yang banyak di jumpai di suatu daerah, nama ikan tersebut biasa di panggil oleh para warga setempat dengan sebutan ikan Budur. Dan disaat musim hujan yang membuat sungai yang ada di desa tersebut meluap dan full ke atas permukaan dan membuat ikan-ikan Budur itu ikut berkumpul di satu tempat. Sungai yang sekaligus dijadikan sebagai batasan dari Desa buduran dengan Desa yang lain dan begitulah sejarah singkat terbentuknya Desa buduran. 
           
buduran
area makam keturunan rato ebhu
Desa buduran semakin menjadi terkenal dikarenakan adanya sejarah lain yang terjadi di desa tersebut yaitu  Paserean Rato Ebuh, konon ceritanya Ibu Ratu yang bernama Syarifah Ambami sekaligus isteri dari Pangeran Tjakraningrat I. Ibu Ratu melakukan pertapaan di Desa Buduran tersebut karena Ibu Ratu sangat merasa sedih karena telah mengecewakan suaminya di karenakan permintaanya kepada Allah SWT yang akan di kabulkan oleh Nabi Khidiir AS. Permintaan dari Ibu Ratu yaitu supaya 7 turunannya nanti akan memimpin Pemerintahan di Madura, dan suaminya pun kecewa pada Ibu Ratu di karenakan suaminya menginginkan seluruh keturunannya dapat menjadi pemimpin   Pemerintahan di Madura. begitulah permasalahan yang di rasakan oleh Ibu Ratu dan akhirnya Ibu Ratu melakukan pertapaannya di Desa Buduran dengan meneteskan air  mata, karena kesedihan yang tidak bisa Ibu Ratu tahan lagi membuat siang malam selama pertapaannya Ibu Ratu selalu menangis sampai Ibu Ratu meninggal dalam keadaan menangis pula. Dan menurut sesepuh Desa air mata dari Ibu Ratu tadi menjadi 7 titisan yang tersebar di Desa tersebut dan 7 titisannya itu adalah Buduran, Plakaran, Cendegeh, Mankon, Dlemir, Krang Pao, Krang Duak dan Makam Agung.


buduran
lampion zone
            Seiring waktu akhir 2017 ini wisata religi pesarean aermata rato ebhu semakin populer di Madura khususnya Arosbaya, Banyak touris dan peziaroh dari luar kota berbondong-bondong mengunjungi Makam Rato Ebhu. Kami KKN 58 UTM ditugaskan untuk terjun membantu meningkatkan branding wisata religi di Desa Buduran yakni pesarean AERMATA EBHU. Dengan meneliti keadaan sekitar, sesuai proker unggulan kami yakni branding wisata Buduran, maka kami membuat sebuah spot-spot area yang menarik, hingga masyarakat tertarik untuk selalu mengunjungi tempat ini. Kami membuat sebuah area lampion zone dimana apabila dilihat nampak seperti daerah yang ceria walau terkenal dengan daerah religi. 




Komentar